The Adventure of Detective Narsis First Case : Pembunuhan di Konstruksi Gedung

Maret 11, 2009

Hello… sebelumnya, gak apa-apa donk kalo aku memperkenalkan namaku?! Kan seperti kata orang, kalo tak kenal maka tak sayang, jadi sebagai awal permulaan untuk mulai menyayangiku sebaiknya kamu tau dulu namaku. Kamu semua boleh panggil aku Ai yang berarti “cinta”, karena aku sanggup membuat semua orang jatuh cinta kepada ku,,, gak apa2 donk “ngarep” sedikit?! Hehehe.
Okay,,, karena kamu udh tau namaku, sekarang aku pgn sharing niy tentang kasus-kasus yang telah maupun yang sedang aku tangani. Namun kali ini aku akan sharing tentang kisah kasus pertamaku yang terjadi di gedung yang sedang dibangun. O,iya alasanku untuk menceritakan kembali kasus ku ini adalah agar aku terkenal seperti idolaku Detective Sherlock Holmes yang sudah mendunia… Hahaha… Kalo gitu langsung aja deh…
Kasus ini terjadi pada tanggal 25 Oktober 2008 lalu pada sekitar jam 19:50. Entah kenapa, malam itu pikiranku seperti dipenuhi oleh hal-hal yang aku sendiri bingung itu apa. Sepertinya semua hal, bahkan alasan kenapa aku ganteng seperti ini juga menjadi beban tersendiri di kepala ku. “Fiuuuh” desisku. Hmmh… mungkin ada baiknya kalo aku harus menyendiri dan berkontemplasi sebentar.
Aku pun mampir sebentar ke taman di mana aku biasa merenung dan bersyukur atas ketampanan yang telah diberikan Tuhan kepada ku. Taman itu terletak tak jauh dari rumah ku. Tiap malam, biasanya taman itu dijadikan pangkalan bagi para penjaja cinta yang berpakaian sungguh aduhai. Tapi anehnya, kenapa mereka tidak pernah memperhatikan ketampanan ku ini ya?! Ya sudah lah, mungkin mereka merasa minder, sehingga tidak ada satu pun yang berani menggodaku.
Setibanya di taman itu, aku membakar sebatang rokok, menghisapnya dan kemudian menghembuskan asapnya ke udara. Ketika aku sedang menghembuskan asap ke udara, aku melihat ada seseorang yang sedang melambai-lambai dengan menggunakan senter di atap sebuah gedung tinggi yang berada tak jauh dari taman tempat ku itu. Aku kira dia memang sedang iseng saja, sampai ketika datang peristiwa yang membuat ku terkejut. Setelah orang itu melambai-lambai dengan senter nya, Ia pun melompat. “What the Fuck?!” teriakku sambil berlari ke arah gedung tempat orang itu melompat.
Sambil terengah-engah, akhirnya aku pun sampai ke tempat itu. Ternyata tempat orang itu melompat adalah sebuah gedung yang sedang dalam proses pembangunan. Setelah melihat ke sana-sini akhirnya aku menemukan orang yang melompat tadi terlentang bersimbah darah, but too bad, dengan luka yang sangat parah seperti itu, pasti dia sudah menjadi jasad. Segera ku ambil telepon ku untuk menelepon polisi.
Ketika aku sedang melaporkan kejadian itu kepada polisi, tiba-tiba 1 menit kemudian ada 3 orang yang datang menghampiriku.
“Ada apa ini??” teriak seorang pekerja bangunan yang bernama Joko (27 tahun) di antara mereka.
“Oh my gosh, apa yang terjadi dengan Pak Dahlan?” Tanya seseorang yang bernama Rahmat (48 tahun) yang bekerja sebagai kontraktor gedung tersebut.
“Apakah sudah kau memanggil bantuan?” Tanya seorang pria yang juga berprofesi sebagai pekerja bangunan bernama Santoso (25 tahun).
“Ya, apakah kau sudah memanggil ambulans dan polisi?” kata Rahmat dengan sedikit berteriak panic.
Aku agak sedikit bingung dengan perintah itu. “su.. sudah… aku sudah menghubungi ambulans untuk segera datang ke sini” kata ku. “Sekarang aku akan menelepon polisi” lanjut ku.
Setelah para polisi dan ambulans datang, akhirnya TKP segera diperiksa. Korban pun telah diidentifikasi sebagai pekerja bangunan yang bernama Dahlan (50 tahun). Di dalam baju korban ditemukan sebuah undangan pernikahan anaknya yang akan dilaksanakan besok tanggal 26 Oktober 2008. Tidak ada tanda-tanda perlawanan dan penganiayaan pada tubuh korban selain luka-luka yang dideritanya akibat jatuh dari lantai 20 gedung tersebut. Waktu kematian diperkirakan sekitar jam 20.00 WIB.
Inspektur Junarto (45 tahun) akhirnya datang menemuiku dan ketiga orang lainnya untuk meminta keterangan tentang peristiwa hari itu.
Orang ditanya pertama kali adalah Rahmat si kontraktor. “Bisa anda ceritakan bagaimana peristiwa ini terjadi?” kata Inspektur.
“Ketika itu saya sedang melihat kembali laporan progress pekerjaan pembangunan ini, saya memang berniat untuk lembur hari ini. Karena Jenuh, maka saya keluar dari ruangan saya untuk sekedar refreshing, kemudiaan saat itulah saya melihat ada orang di atas gedung ini seperti sedang membuat lingkaran di udara, lalu orang itu tiba-tiba melompat” tukas Rahmat.
“Di mana letak kantor mu, Pak Rahmat?” Tanya si inspektur.
“Di situ, Pak Inspektur” ucap Rahmat sambil menunjuk ke arah sebuah kantor tepat di depan gedung yang belum jadi itu.
“Ada yang mungkin bisa diceritakan, Pak Joko?” Tanya inspektur kepada seorang pekerja bangunan.
“Saya kurang begitu tahu jelasnya, Pak Inspektur” Jawab Joko.
“Kenapa bisa begitu?” Tanya inspektur lagi.
“Soalnya saya sedang istirahat di dalam gedung di lantai 2 ketika akhirnya saya mendengar suara seperti orang terjatuh” jelas Joko.
“Kalau anda sendiri bagaimana, Pak Santoso?” ucap inspektur sambil bersiap untuk mencorat-coret buku catatan kecilnya.
“Saya sedang duduk-duduk saja di belakang gedung ini sambil merokok, lalu saya berlari ke depan karena mendengar suara orang terjatuh dan kemudian saya bertemu dengan bocah ini sedang berdiri di depan mayat pak Dahlan” sambil menunjukku dengan rokok menyala yang masih dipegangnya.
Akhirnya inspektur pun bertanya hal yang sama seperti yang ditanyakan kepada saksi yang lain. “lalu sedang apa kau di sini, Nak? O,iya siapa namamu?” ucap inspektur itu.
“Nama saya Ai, Pak. Saya sedang bersantai di taman seberang tak jauh dari gedung ini, kemudian saya melihat seseorang melambai-lambai dengan senter dan kemudian melompat, Pak”. Ucapku.
“Hmmmh… begitu ya?! Kalo begitu berarti kasus ini murni bunuh diri. Kalau begitu tolong tulis kembali keterangan kalian masing-masing di surat laporan polisi ini” tegas Pak Inspektur itu.
Tapi sepertinya ada yang aneh dengan kejadian ini, kata-kata yang diucapkan orang itu, dan cara dia menulis di surat laporan saksi itu sangat aneh, kenapa dia menyipitkan sebelah matanya?. “Pak Inspektur, apakah tadi benar ditemukan ada kartu undangan dari anak pak Dahlan?” tanyaku.
“Ya, memang ada. Ada apa memangnya?”
“Sepertinya hal itu yang mengganggu saya, Pak. Soalnya kenapa justru pada saat anaknya ingin menikah, Pak Dahlan malah ingin bunuh diri? Karena setahu saya, orang tua akan sangat bahagia jika anaknya menikah”
“Benar juga ya?! Saya juga akan bahagia jika anakku akan menikah, tapi bisa saja dia terjerat akan hutang akibat pernikahan itu dan dia tidak sanggup bayar kemudian akhirnya dia putus asa dan memutuskan untuk bunuh diri” ucap pak Inspektur.
“Tapi bukannya hal itu malah akan semakin memberatkan anaknya, Pak? Mana ada sih orang tua yang capai-capai meminjam uang untuk pernikahan anaknya lalu kemudian sengaja bunuh diri, karena hal itu akan menyebabkan pernikahan anaknya berantakan jika ternyata si Penagih hutang datang mengacau pernikahan anaknya?” ucapku. “lagi pula, dari posisi mayat yang terlentang ini agak mencurigakan, Pak. Karena ketika saya di taman, saya melihat korban ini menunduk ke depan terlebih dahulu baru setelah itu melompat, sehingga seharusnya posisi mayat korban ini tengkurap, bukan terlentang seperti ini” tambahku.
“Betul juga, jadi ada kemungkinan bahwa ini adalah pembunuhan? Baiklah kalau begitu, saya akan coba meminta keterangan lagi dari saksi-saksi ini”
“Kalau memang ini pembunuhan, sepertinya Pak Rahmat ini adalah pembunuhnya, Pak Inspektur, soalnya dia sangat membenci pak Dahlan karena dia sangat ceroboh dan juga lamban pekerjaannya” celoteh Joko.
“Hei, jangan bicara sembarangan ya kau. Kalau aku memang membencinya karena alasan itu, tak perlu kan aku membunuhnya. Lagi pula yang punya konflik dan pernah bertengkar dengan korban bukan hanya aku saja, kamu dan juga Santoso juga punya masalah dengan korban” balas Rahmat.
“Apakah benar begitu, Pak Joko dan Pak Santoso? Sepertinya saya ingin mendengar lebih jelas lagi langsung dari kalian, mulai dari anda dulu Pak Santoso” perintah Pak Inspektur.
“Hmmh… memang benar, Pak Inspektur. Saya memang pernah punya masalah dengan korban, tapi saya tak akan berani sejauh itu untuk membunuh korban” ucapnya.
“Masalah apa itu kalau saya boleh tahu?” kata Inspektur.
“Waktu itu saya pernah menjalin hubungan dengan anak korban, Pak. Tapi hubungan Saya dengan anaknya tidak berjalan lancar, hal itu karena hubungan kami tidak disetujui oleh korban, dan pada akhirnya kami pun berpisah… kelanjutannya bisa anda ketahui sendiri, Pak dari undangan pernikahan mantan kekasihku itu” ucap Santoso sambil merunduk.
“Bagaimana dengan anda, Pak Joko?” tukas Inspektur sambil menunjuk Joko dengan pensilnya.
“Eh… eh… ya, Pak Inspektur. Saya memang pernah bertengkar dengan korban beberapa hari yang lalu karena korban belum bisa membayar hutangnya padahal saya juga sedang butuh uang, tapi kemudian saya beri dia kelonggaran karena korban akhirnya menjelaskan kalau uang yang dipinjamnya dari saya itu ternyata buat biaya pernikahan anaknya, Pak. Seperti itu ceritanya” ucapnya
“Hmmmh… jadi ketiga saksi ini mempunyai motif untuk membunuh…” Gumam Inspektur sembari mengigit ujung pensilnya.
Sepertinya salah satu dari orang itu ada yang berbohong. Sepertinya kalau dilihat dari semua keterangannya yang janggal, tidak salah lagi, orang itu mempunyai kemungkinan yang besar sebagai pembunuhnya. Aku harus segera mencari bukti-bukti lain, jika analisis ku ini benar.
“Pak Rahmat, tadi anda bilang anda sedang keluar sejenak dari ruangan anda yang berada di depan gedung ini untuk mencari udara segar ketika anda melihat korban melompat kan?” tanyaku
“Ya, memang benar itu. Ada apa memangnya, Bocah?” jawabnya ketus
“Kalau ucapan anda memang benar, lalu kenapa tadi ketika saya bertemu anda pertama kali ketika menemukan korban tergeletak anda berlari dari arah dalam gedung, kan seharusnya anda berlari dari arah kantor anda yang berada di depan gedung itu?!” balas ku
“Eh… Oh itu karena ketika saya melihat korban di atas gedung itu dan melakukan sesuatu seperti membuat-buat lingkaran di udara dengan senternya, saya langsung mempunyai perasaan tidak enak dan kemudian berlari menuju ke gedung untuk berbicara dengannya. Lagipula kalau saya yang memang membunuhnya, saya tidak akan secepat itu bertemu dengan anda, hal itu karena untuk bisa ke atap gedung ini Cuma bisa melalui satu tempat, yaitu lift bangunan itu” ucapnya sambil menunjuk ke arah lift bangunan yang terletak di samping gedung. “Dan asal anda tahu lagi, lift itu sangat lambat untuk bisa sampai di lantai paling atas, dibutuhkan waktu kira-kira 15 menit” tambahnya lagi.
Sial, apakah memang benar yang diucapkan orang itu? Cuma ada satu jalan untuk mengetahuinya. Aku pun mencoba menaiki lift itu, dan kira-kira 15 menit kemudian ternyata aku baru sampai di lantai paling atas.
“Fuck!!” desis ku. Ketiga orang itu bertemu dengan ku setelah 1 menit aku menemukan korban. Kalau cara ini memang salah, berarti Cuma ada satu trik lagi yang mungkin dilakukannya, kalau analisis hebat ku ini benar, maka jejak itu ada bagian tengah ini, karena tadi ketika di taman aku melihat korban melompat dari atap bagian tengah ini.
“Woo-Hoo” Teriakku dengan semangat. Ternyata jejak itu memang ada. Tidak salah lagi, orang itu yang membunuhnya. Tapi aku perlu bukti lain yang mutlak, yang bisa membuktikan kalau hanya dia sebagai pembunuhnya. O,iya aku tahu kalau tidak salah waktu itu dia melakukan hal yang aneh.
Setelah menemukan jejak itu, akhirnya aku turun kembali ke bawah. 10 menit kemudian aku tiba di bawah. Aku pun melihat ke arah atap gedung tersebut dari bawah, dan aku pun pindah ke tempat dimana kira-kira sejajar dengan jejak yang aku temukan di atas gedung. Aku pun mencari-cari di sekitar tempat tadi. “Yess…” gumamku, akhirnya aku telah menemukan bukti mutlak, dan kalau dilihat dari cepatnya dia bertemu denganku ketika menemukan korban, berarti dia juga tidak sempat menyembunyikan benda itu. Saat ini pun pasti orang itu meninggalkan jejak yang menyakitkan di tubuhnya sendiri.
Lalu aku pun menemui Pak Inspektur untuk meminta bantuannya agar memanggil kembali saksi-saksi.
“Hei, ada apa lagi ini? Kenapa kami dikumpulkan lagi seperti ini?” ucap Joko dengan sedikit berang.
“Aku sudah menemukan pembunuhnya, Pak Inspektur, dan pembunuhnya ada di antara tiga orang ini” ucap ku
“Apa maksudmu? Memang siapa pembunuhnya?” Tanya Santoso
“Pembunuhnya adalah Pak Rahmat” ucapku sambil menunjuk ke arah Rahmat
“A… Apa maksudmu? Jangan bicara sembarangan, kau bocah keparat!!!” bantah Rahmat
“Bagaimana kamu bisa mengetahui pembunuhnya, Nak?” Tanya Inspektur kepadaku
“Saya mengetahuinya dari keterangan yang diberikan Pak Rahmat sendiri, Pak Inspektur” ucapku. “Dari mana Pak Rahmat tahu bahwa kejadian ini adalah pembunuhan? Karena waktu pertama kali bertemu dengan saya, Pak Rahmat bertanya apakah saya sudah memanggil ambulans dan polisi, pada umumnya orang akan menganjurkan untuk memanggil ambulans saja ketika kecelakaan terjadi. Kemudian dari mana Pak Rahmat tahu gerakan yang dilakukan oleh korban dengan senter sebelum bunuh diri adalah gerakan melingkar atau memutar? Karena gerakan korban jika dilihat dari arah depan gedung, seperti dari ruangan tempat Pak Rahmat bekerja ataupun dari taman tempat ku merenungkan ketampanan ku ini, gerakan itu akan terlihat seperti orang yang menggerakkan senter ke kanan dan ke kiri seperti orang yang melambai. Jadi kesimpulan analisis saya, yang bisa mengetahui gerakan detail korban adalah si pembunuh itu sendiri, yaitu Pak Rahmat” jelas ku
“Lalu bagaimanakah cara aku membunuh korban, Bocah keparat? Jika aku membunuhnya, bagaimanakah aku bisa kembali ke bawah dan bertemu dengan mu secepat itu? Bisa kau jelaskan itu, Bocah tengik?”
“Hal itu mudah saja. Biar saya jelaskan kronologis pembunuhannya berdasarkan analisis hebat ku ini. Di malam itu Anda memanggil korban untuk menemuinya di atap gedung ini. Setelah itu, terjadi percekcokan mulut, kemudian Anda pun mendorongnya hingga jatuh. Hal itu sangat mudah dilakukan karena korban sudah tua, sehingga mudah bagimu untuk mendorongnya. Kemudian untuk membuat seolah-olah korban bunuh diri, maka Anda berdiri ke pinggiran gedung dengan berpakaian seperti korban dan mencari perhatian dengan cara memutar-mutar senter ke udara. Lalu dengan tali yang sudah dipersiapkan yaitu tali bungee buatan Switzerland yang memang dirancang agar tidak terlalu lentur supaya anda tidak terbentur ke tepi gedung, anda pun akhirnya melompat ke bawah. Setelah anda tiba di bawah, Anda memotong tali bungee yang mengikat kaki Anda itu dan untuk memutus pengait tali yang ada di atas, maka anda menggunakan peledak kecil dengan pengendali jarak jauh, karena saya menemukan potongan kecil tali bungee itu dan juga noda hitam seperti terbakar di tali itu. Saya juga bingung dari mana Anda bisa mendapatkan peledak itu. Kemudian setelah Anda memutuskan tali itu, Anda membuang tali nya entah ke mana karena saya belum sempat menemukannya, tapi saya yakin pasti ada di sekitar sini. Lalu karena Anda mendengar suara langkah kaki saya yang berlari menuju ke sini, maka Anda pun segera berlari menuju tempat terdekat dengan Anda, yaitu bagian dalam gedung ini, karena jika Anda memaksakan diri mengambil resiko untuk berlari ke kantor Anda yang ada di depan gedung ini dan kemudian bertemu dengan saya, maka Anda akan segera dicurigai sebagai pembunuhnya. Kemudian Anda keluar untuk menemui saya agar Alibi Anda sempurna, tapi sayangnya, memang Cuma kehadiran orang jenius seperti saya ini yang berada di luar rencana Anda, Pak Rahmat, Hahahaha” jelas ku dengan bangga.
“B…Bocah tengik. Hal itu kan bisa dilakukan oleh siapa saja, belum tentu dilakukan oleh ku. Mana buktinya??” teriak Pak Rahmat dengan marah
“Tenaaaang, Pak Rahmat… Jangaaaaan Seddddiiiiiiih… saya sudah tahu pasti Anda akan berkata seperti itu setelah mendengar penjelasan saya. Ada 3 bukti otentik yang membuktikan kalau hanya Anda lah sebagai pembunuh dari Pak Dahlan” kata ku
“Bukti pertama adalah lensa kontak ini” ucapku sambil menunjukkan lensa kontak itu kepada Inspektur yang sedang serius mendengarkan penjelasanku. “Tadi ketika Anda menulis laporan yang diperintahkan oleh Pak Inspektur, Anda menulisnya sambil memicingkan mata sebelah kanan, setelah saya analisis, hal itu adalah karena Anda kehilangan satu lensa kontak, sehingga jika anda tidak menutup sebelah mata Anda, maka Anda akan kesulitan untuk membaca tulisan yang tertera di laporan itu dan juga hal itu akan membuat Anda pusing ketika menulis. Jika diperiksa DNA yang menempel di lensa kontak itu dan ternyata memang punya Anda, maka tak ada yang bisa Anda sangkal lagi. Lensa kontak ini kemungkinan terlepas dari mata Anda saat melakukan lompatan itu”
“Bukti kedua adalah timing pertemuan antara Anda dengan saya yang cepat, yaitu sekitar 1 menit, tidak memungkinkan Anda untuk berpikir jernih, karena pada waktu itu kemungkinan besar anda hanya akan focus pada bagaimana cara membuang tali saja, tapi Anda tidak memikirkan untuk membuang pengendali jarak jauh untuk meledakkan peledak itu. Mungkin karena remote itu kecil, sehingga Anda cukup untuk menyimpan di kantong saja. Jadi saat ini pasti pengendali jarak jauh itu masih ada di kantong anda”
“Bukti ketiga adalah karena anda kemungkinan besar tidak memiliki tali bungee dan perlengkapan sesuai standar yang ada, maka pasti tali bungee itu akan melukai pergelangan kaki Anda, oleh karena itu, pasti dibalik celana panjang yang Anda kenakan itu, pasti Anda menyembunyikan luka itu, Pak Rahmat. Selanjutnya saya serahkan pada Anda, Pak Inspektur, Silahkan Anda geledah sendiri” Ucapku.
“Hei, kalian… cepat geledah kantongnya dan periksa pergelangan kakinya” ucap Pak Inspektur kepada 2 petugas nya.
Ternyata memang ditemukan pengendali jarak jauh itu di kantongnya dan juga luka lecet di kaki Pak Rahmat. Akhirnya dia pun ditangkap dan dijebloskan ke dalam penjara untuk waktu yang lama akibat pembunuhan berencana.
Motif dari pembunuhan itu adalah karena kontraktor itu melakukan korupsi, hal ini diketahui oleh korban yaitu Pak Dahlan. Karena takut korban akan cerita ke polisi, maka Pak Rahmat pun membunuhnya dengan trik yang membuat seakan-akan Pak Dahlan melakukan bunuh diri.
Itulah awal dari kisah hebat ku sebagai detektif tampan. Kasus pertama ku itu membuat ku selalu dipanggil ketika terjadi kasus yang susah untuk dipecahkan. Dan Analisis ku yang dahsyat membuat ku terkenal. Tapi anehnya, kenapa wanita masih belum ada yang sadar akan ketampananku ini ya?? Memang benar kata idola ku Sherlock Holmes, “Woman’s minds are insoluble puzzle for the man”.
Sampai ketemu di kasus aku selanjutnya ya… 

Entry Filed under: Detective Narsis. Tag: , , , , , , , , .

Leave a Comment

Required

Required, hidden

Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Blog Stats

Tulisan Teratas

Klik tertinggi

Bisnis Online

Blogroll

RSS berita terkini

Komentar Terakhir

aikyo di Kenapa Harus Bisnis Network…
I Love SMA 55 di Kenapa Harus Bisnis Network…
aikyo di Kenapa Harus Bisnis Network…
warnisline di Kenapa Harus Bisnis Network…
aikyo di sekilas info tentang gw,,, (al…

Flickr Photos

Jump!

autumn apparitions

twist and twirl

More Photos