The Adventure of Detective Narsis Second Case : Pembunuhan Sang Pengusaha
Maret 14, 2009
Kasus ini terjadi beberapa waktu yang lalu tak lama setelah kasus pertama ku yang membuat ku dari seorang mahasiswa tampan biasa, menjadi detektif mahasiswa yang tampan . Kebetulan kasus kali ini melibatkan kematian seorang pengusaha rokok terkenal kaya raya yang bernama Ahmad (53 tahun).
Ketika itu, Aku ikut dipanggil oleh pihak kepolisian untuk membantu proses investigasi. Sepertinya mereka sudah mengakui ketampanan dan kehebatan analisis ku ini.
Agar aku lebih terlihat tampan, maka pada investigasi kali ini aku mengajak serta teman sekampus ku yang juga semester akhir seperti ku yang bernama Kyo. Karena wajahnya biasa-biasa saja, maka aku berpikir dialah orang yang cocok untuk menjadi asisten ku.
Tempat kejadian perkara kali ini terletak di sebuah rumah besar di kawasan elit Jakarta. Rumah itu terdiri dari 2 lantai. Setelah kami melewati pagar rumah itu, kami melalui jalan yang terbuat dari cone block. Di samping kiri jalanan itu, ada sebuah taman yang cukup luas. Taman itu banyak ditumbuhi oleh tanaman yang dapat menyejukkan suasana.
Setelah kami kami menaiki 4 anak tangga, kami sampai di pintu masuk. Kemudian kami disambut oleh seorang wanita cantik. Wanita itu adalah istri korban yang melapor kepada polisi tentang kejadian ini. Wanita itu bernama Laura (30 tahun). Sambil terisak-isak, dia menceritakan kepada polisi tentang kejadian ini. Dia berkata bahwa pada jam 7 pagi saat dia sedang ingin memanggil suaminya untuk sarapan, dia mendapatkan pintu kamar suaminya terkunci. Saat itu dia kira suaminya masih tertidur lelap karena kelelahan akibat kerja kemarin malam. Tapi setelah beberapa lama suaminya tidak juga keluar dari kamar, dia pun akhirnya mulai curiga. Akhirnya dia pun pergi ke taman di halaman rumahnya, karena kebetulan kamar suaminya menghadap taman itu. Setelah sampai di taman itu, dia melihat jendela kamar suaminya terbuka. Jendela kamar suaminya tidak berteralis, sehingga dia bisa leluasa untuk mengintip ke dalam kamar. Tapi pada saat itu yang dilihatnya bukan lah suaminya yang sedang tidur, tapi suaminya yang sedang terlelap untuk selamanya dengan bersimbah darah. Akhirnya dia pun menelepon polisi untuk melaporkan kejadian ini.
Saat kami berbincang-bincang dengan istri korban yang cantik itu, tiba-tiba teman ku bertanya kepada istri korban tentang di manakah toilet berada. Dasar pria yang malang temanku itu, mungkin karena dia tidak pernah bertemu dengan wanita cantik sebelumnya, akhirnya saat bertemu istri korban yang cantik, dia jadi gugup, sehingga dia sakit perut. Wanita itu memberitahu untuk memakai toiletnya saja yang berada di kamarnya di lantai 2. Akhirnya teman ku itu pun berlari menuju lantai 2 untuk “membuang” hasil pencernaan makanannya.
“Nyonya, apakah anda tidak punya kamar mandi di bawah untuk tamu yang datang?” Tanya ku.
“Eh… ada sih, tapi toilet nya sedang mampet” katanya sambil terisak.
Setelah mendengar keterangan dari istri korban, kami akhirnya menuju kamar korban. Kamar itu masih terkunci dari dalam saat kami datang. Karena sang istri tidak mempunyai kunci duplikat, akhirnya kami mendobrak pintu itu. Alasan kenapa kami tidak masuk melalui jendela kamar itu adalah karena kami tidak mau merusak TKP, takut ada bukti-bukti yang dapat membawa kami kepada pecahnya kasus ini.
Setelah mendobrak pintu kamar korban, kami menemukan sang pengusaha itu tergeletak tak bernyawa di lantai kamarnya dengan luka tusuk pisau besar tepat di jantung. Di dalam kamar itu, dekat dengan jendela, kami menemukan jejak-jejak lumpur yang diperkirakan milik tersangka pembunuh pengusaha itu, karena kemarin cuaca sedang turun hujan. Lampu kamar itu masih menyala ketika kami masuk.
Aku pun meneliti jejak-jejak itu, sementara petugas polisi yang lain mengurusi jenazah pengusaha itu. Jejak-jejak itu terlihat terlalu beraturan. Aku pun akhirnya keluar rumah korban menuju taman untuk meneliti jejak itu lebih lanjut. Di taman itu aku juga menemukan tanda-tanda yang ditinggalkan oleh sepatu tersangka, karena tanah pada taman itu sudah mengering, sehingga jejak sepatu di tanah itu terlihat jelas. Tidak ada yang aneh dengan jejak yang ada di taman itu.
“Fiuuh” gumamku. Apakah ini memang dilakukan oleh orang luar? Apa memang aku saja yang berpikir berlebihan? “Shit” aku menemukan jalan buntu.
Aku harus menemukan bukti-bukti lain. Aku pun akhirnya mengikuti jejak yang ditinggalkan di taman rumah itu. Jejak itu memang mengarah ke jendela kamar korban. Aku pun akhirnya tiba tepat di bawah jendela kamar korban, jendelanya lumayan tinggi, kira-kira setinggi dada ku, tapi kalau tidak salah jendela bagian dalam di kamar korban Cuma setinggi pinggang ku. “This is Weird” ada yang aneh dengan jendela ini. Kenapa tidak ada tanda-tanda perusakan di jendela korban? Dan juga kenapa Cuma ada jejak lumpur yang mengarah keluar di jendela ini?
Setelah meneliti jejak itu, aku pun kembali memasuki rumah dan menuju kamar korban. Ketika itu, teman ku Kyo sudah kembali dari WC. “Bagaimana, Kawan? Sudah selesai “urusan” mu itu?” ucap ku
“Sudah, lega sekali rasanya” jawabnya sambil terkekeh
“e..eh.. Nyonya, apakah ada barang-barang yang hilang di tempat ini?” Tanya teman ku kepada istri korban
“Ada, uang, perhiasan dan surat-surat berharga yang ada di brankas di dalam lemari telah hilang” ucapnya
“hah?” ucap ku bingung
“Iya, uang, perhiasan dan surat berharga yang saya dan suami saya kumpulkan telah hilang” jawab nya sambil menunjukkan dan kemudian membuka brankas yang telah kosong di dalam lemari pakaian korban
“Wah, berarti ini kasus perampokan dan pembunuhan oleh orang luar” ucap teman ku Kyo
Tapi ada yang aneh. Kalau analisis hebat ku memang benar, maka bukti-bukti itu ada di sekitar sini.
“O,iya Nyonya Laura, ke mana kah semua pembantu anda? Karena untuk seseorang yang sibuk seperti anda dan korban, pasti lah anda membutuhkan pembantu untuk mengurus rumah” kata ku
“Saya hanya punya dua pembantu, mereka kebetulan bersaudara, 3 hari yang lalu mereka izin dua minggu untuk pulang ke kampung nya karena ibu mereka sedang sakit” jawab istri korban
Jadi ternyata begitu. Sepertinya memang kemungkinan besar pelaku pembunuhan ini adalah orang dalam.
“Hei, Kyo… tolong kamu cari informasi apakah korban memiliki asuransi atau tidak dan juga tolong cari tahu akan diberikan kepada siapakah uang asuransi itu nantinya diberikan jika korban meninggal” bisik ku kepada teman ku
“B..Baiklah… tapi memangnya buat apa?” Tanya teman ku
“Sepertinya aku menemukan motif” jawab ku
Tapi saat ini aku masih belum menemukan bukti otentik yang bisa membuktikan analisis ku ini. Aku pun mencari-cari di sekitar dalam rumah. Sepertinya aku harus mulai mencari dari dapur, karena siapa tahu di sana ada makanan, perut ku agak sedikit lapar.
Setelah sampai di dapur, aku melihat sebuah daging yang telah dipotong sebagian dan sebuah pisau kecil. “O,iya Nyonya, sepertinya anda akan membuat daging semur ya?” Tanya ku
“I… Iya” jawab Nyonya itu
“Tapi sepertinya pekerjaan anda itu belum selesai? Apakah karena susah memotongnya? Karena tampaknya anda memakai pisau yang kecil, kenapa anda tidak pakai pisau yang besar saja yang ada di tempat pisau itu? Kan itu bisa membuat pekerjaan memotong anda menjadi lebih cepat”
“Iya, soalnya pisau yang besar itu sudah agak tumpul” jawab Nyonya itu
“soo desuka… jadi begitu” jawab ku. “o,iya apakah ada sedikit biscuit atau kue di dalam kulkas, Nyonya? Saya agak sedikit lapar” ucap ku tak peduli
“o..oh ada… silakan ambil saja” jawab Nyonya itu
Sambil menikmati kue, aku pun berpikir bagaimana cara pelaku melakukan pembunuhan ini. Aku yakin analisis hebat ku ini benar. Tapi sepertinya ada bagian yang hilang dari analisis ku ini.
Setelah menikmati kue, aku pergi ke arah pintu masuk rumah tersebut. Aku pun mengecek keset yang ada di bagian luar pintu masuk itu. “Woo-Hoo” teriak ku. Aku menemukan tetesan lumpur di keset tersebut. Tinggal satu bukti lagi, di mana dia menyimpan uang dan perhiasan itu. O,iya aku ingat, sepertinya kemungkinan besar ada di tempat itu.
Setelah mendapatkan keyakinan akan analisis ku, aku pun kembali menemui Inspektur untuk memintanya agar memanggil istri korban ke ruang tamu. Setelah Inspektur, istri korban dan juga petugas polisi telah berkumpul semua, aku pun menjelaskan analisis hebat ku ini.
“Inspektur, sepertinya kasus kali ini bukan kasus perampokan dan pembunuhan oleh orang luar” ucap ku
“Apa maksudmu, Nak?” Tanya inspektur
“Iya, karena kasus ini dilakukan oleh orang dalam, dan pelakunya adalah Nyonya Laura sendiri” jawab ku
“A…Apa maksudmu? Aku tak mungkin membunuh suami ku” ucapnya
Tiba-tiba saja kawan ku Kyo datang menghampiri ku. “Kawan, aku sudah mendapatkan informasinya” bisik kawan ku itu sambil menjelaskan informasi yang aku minta
“Bisa saja, Nyonya kalau motif yang diinginkan adalah harta suami anda, karena baru saja saya mendapat informasi dari teman saya ini bahwa asuransi korban mengatasnamakan diri anda, sehingga jika terjadi sesuatu, misalnya kematian, maka seluruh uang asuransi, sekitar 2 miliar, akan diserahkan kepada anda. Dan juga melihat bahwa anda dan suami anda tidur di kamar yang terpisah, berarti hubungan anda tidak berjalan dengan mulus” ucap ku.
“T… Tidak… aku tidak mungkin melakukan itu” jawab nya
“Anda tak akan bisa menyangkal, Nyonya. Ada banyak bukti yang cukup untuk meyakinkan saya bahwa anda adalah pembunuhnya” jawab ku
“Bukti yang pertama adalah bagaimana anda tahu ada barang yang hilang padahal anda belum mengecek sama sekali sebelumnya, karena ketika sbelum kami masuk ke dalam kamar suami anda, keadaan pintu masih terkunci. Hal itu membuktikan kalau anda memang sudah tahu dari awal kalau barang-barang itu hilang, karena anda sendiri yang mengambilnya”
“Bukti kedua adalah tidak adanya kerusakan di jendela, lampu kamar yang masih menyala dan juga keadaan ruangan kamar ini yang terlalu rapih jika dilakukan oleh orang luar. Jika saya adalah perampok dari luar, maka saya akan berpikir dua kali untuk masuk ke dalam kamar ini, karena seperti yang saya lihat lampu kamar ini masih menyala. Jika saya memang masih nekat untuk tetap masuk ke dalam kamar ini meskipun lampu menyala, maka saya akan menyongkel jendela ini agar bisa terbuka, karena tidak mungkin korban membukakan pintu jendela ini dengan sendirinya. Dan juga saya akan mengobrak-abrik tempat ini untuk akhirnya menemukan brankas yang ada di dalam lemari, tapi yang saya lihat sekarang, kamar ini terlalu rapih, seakan-akan si perampok sudah mengetahui bahwa memang ada brankas di dalam lemari ini”
“Bukti ketiga adalah jejak-jejak lumpur itu. Hal ini sangat mencurigakan, karena jejak yang terdapat ada di jendela Cuma ada jejak yang mengarah keluar saja, tapi tidak ada jejak yang mengarah masuk, padahal sisi jendela yang ada di luar lebih tinggi daripada yang di dalam. Normalnya orang akan menginjakkan kakinya di sisi jendela untuk bisa memanjat ke dalam”
“Bukti keempat adalah saya menemukan bahwa ada tetesan lumpur di keset di depan pintu masuk yang mencurigakan”
“Dan Bukti kelima adalah alasan kenapa anda tidak memakai pisau yang lebih besar untuk memotong daging yang lumayan kenyal dan tebal itu” kata ku
“Lalu apa hubungan dari semua itu dengan saya?” ucap Nyonya itu
“Duuh… masih aja “ngeles” aja niy kaya bajaj. Kalau begitu biar saya jelaskan kronologisnya. Malam itu anda masuk ke dalam kamar suami anda dengan pura-pura ingin bicara dengannya. Setelah suami anda membuka pintu, maka anda langsung menusuknya dengan pisau besar yang ada di dapur itu, itulah alasan kenapa anda tidak mau menggunakan pisau itu untuk memotong daging, karena kemungkinan besar anda jijik dengan darah suami anda, dan jika memang ditemukan jejak darah suami anda di pisau itu dengan menggunakan cairan fulenol, maka anda tidak bisa mengelak lagi. Kemudian setelah menusuk korban, anda membuka brankas dan mengambil semua isinya lalu anda taruh di suatu tempat. Kemudian anda mencoba membuatnya seperti sebuah perampokan dengan membuat jejak-jejak, saat itu anda ke taman dengan menggunakan sepatu suami anda yang besar menuju tepi jendela, tapi karena jendela itu terlalu tinggi dan anda sepertinya terlalu lemah untuk mengangkat badan anda sendiri, maka anda tidak memanjat jendela itu, lalu anda kembali melewati taman dan kemudian membuka sepatu anda ketika memasuki rumah. Itu lah sebabnya ada tetesan lumpur di keset depan pintu masuk rumah anda, mungkin tetesan lumpur itu datang dari sepatu yang anda tenteng saat itu ketika buka pintu rumah. Kemudian anda memakai sepatu itu lagi di dalam kamar korban. Sebelum itu, anda mengunci kamar korban dulu dari dalam. Kemudian karena jendela bagian dalam lebih rendah dari luar akibat rumah anda yang ditinggikan, maka anda bisa memanjat jendela itu sekarang, itulah sebabnya kenapa jejak di jendela hanya ada yang mengarah keluar saja. Begitu, Nyonya” ucap ku
“T..Tapi kalau memang saya yang mengambil, maka saya taruh di mana uang dan perhiasan yang ada di brankas itu??” balas Nyonya itu
“Tennaaaaang…. Jangaaaaaan sedddiiiiih…. Saya juga sudah memprediksi bahwa anda akan menanyakan hal itu. Tapi terima kasih buat teman ku yang wajahnya biasa-biasa ini, saya jadi mengetahui di mana letak anda menyimpan semua itu” jawab ku
“Hah? Kapan aku memberi tahu mu? Aku saja tidak menyangka kalau Nyonya ini adalah pembunuhnya” ucap teman ku dengan bingung
“yaaah… kamu memberitahunya tidak secara langsung. Aku tahu berkat kamu yang tiba-tiba kebelet ingin ke toilet itu. Normalnya jika toilet tamu sedang rusak, maka majikan akan memberitahu untuk menggunakan toilet yang terdekat, dalam hal ini toilet pembantu, karena pembantu Nyonya sedang pergi, maka seharusnya anda menyarankan hal tersebut, tapi anda malah merelakan teman saya ini untuk masuk ke toilet di kamar anda yang berada di lantai 2. Hal itu sangat mencurigakan, karena sepertinya ada sesuatu yang disembunyikan di sana. Akhirnya saya memeriksa kamar mandi tamu itu tanpa sepengetahuan Nyonya. Awalnya saya tidak menemukan apa-apa, dan juga toilet seat-nya memang tidak ada airnya, tapi setelah saya periksa bawahnya, ternyata keran untuk mengisi air di tanki toilet seat itu ditutup, maka kemudian saya membuka tutup tanki toilet seat tersebut dan BINGO saya menemukan uang, perhiasan dan juga surat-surat berharga di dalam tanki itu” kata ku
“Baiklah, Inspektur… tunggu apalagi, segera tangkap dan tahan wanita ini” ucap teman ku
Akhirnya kasus itu berhasil dipecahkan, lagi-lagi semua itu berkat analisis hebat dari detektif tampan ini dan juga berkat tingkah laku konyol teman ku Kyo yang berwajah biasa itu.
Okay then, sampai jumpa di kasus selanjutnya… C yaa J
Entry Filed under: Detective Narsis. Tag: adventure, artikel, detektif, download, free, narsis, pembunuhan, porn, sex.
4 Comments Add your own
Leave a Comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed
1.
jamel virgiawan | Maret 14, 2009 at 5:26 am
alo kk blog na keren abizzz
jgn lupa singgah ke blog saya yaa
http://jamelblog.wordpress.com/
2.
Putlie | Maret 15, 2009 at 4:53 pm
ceritanya mirip cerita detektif conan. UDah ketebak ceritanya, tapi so far sih menghibur lah heheheheeee
3.
aikyo | Maret 16, 2009 at 11:00 am
hehehe… thnx anyway…..
4.
nescha | April 10, 2009 at 1:04 am
dasar detektif narsis sama kaya yang buat narsis abis,, tapi sayangnya yang buat cerita ga bisa jadi detektif beneran,, cuma bisa sok-sok menganalisa aja… hahahahaha,,,
it’s okay beibh… u doing well…
keep trying n u will be the good blogger???? good writer mksudnya.. hehe